Home / Budidaya
Tampilkan postingan dengan label Budidaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budidaya. Tampilkan semua postingan
Kalau ingin membudidaya ikan, kita mestinya mengetahui pemahaman tentang wadah budidaya untuk ikan, dan juga mengetahui lokasi yang bagus untuk menaruh ikan-ikan. Ada 4 jenis wadah budidaya ikan, yaitu kolam, bak, akuarium, dan keramba jaring apung. Berikut penjelasannya:
1). Kolam
Jenis-jenis kolam yang akan digunakan sangat tergantung kepada sistem budidaya yang akan diterapkan. Ada 3 sistem budidaya ikan air yang biasa dilakukan yaitu:
A. Tradisional/Ekstensif
Kolam yang digunakan adalah kolam tanah yaitu kolam yang keseluruhan bagian kolamnya terbuat dari tanah.
B. Semi Intensif
Kolam yang digunakan adalah kolam yang bagian kolamnya (dinding pematang) terbuat dari tembok sedangkan dasar kolamnya terbuat dari tanah.
C. Intensif
Kolam yang digunakan adalah kolam yang keseluruhan bagian kolam terdiri dari tembok.
Kolam dapat dikelompokkan berdasarkan sumber airnya, antara lain:
a). Kolam tadah hujan
b). Kolam mata air
c).Kolam pengairan setengah teknis
d). Kolam pengairan teknis
Kolam berdasarkan asal terjadinya, antara lain:
a). Kolam yang sengaja dibuat
b). Kolam yang tidak sengaja dibuat
Kolam berdasarkan bentuknya, antara lain:
a). Bentuk persegi panjang
b). Bentuk bujur sangkar
c). Bentuk lingkaran/bulat
Kolam berdasarkan fungsinya, antara lain:
a). Kolam pemeliharaan induk
b). Kolam pemijahan/perkawinan
c). Kolam penetasan telur
d). Kolam pendederan
e). Kolam pembesaran
f). Kolam penumbuhan makanan alami
g). Kolam pengendapan
h). Kolam penampungan hasil
Kolam berdasarkan aliran airnya, antara lain:
a). Kolam air tergenang
b). Kolam air mengalir
2). Bak
Wadah budidaya ikan selanjutnya adalah bak atau tangki yang dapat digunakan untuk melakukan budidaya ikan. Berdasarkan proses budidaya ikan, jenis bak yang akan digunakan disesuaikan dengan skala produksi budidaya dan hampir sama dengan kolam dimana dapat dikelompokkan menjadi bak pemijahan, bak penetasan, bak pemeliharaan, dan bak pemberokan. Bak yang digunakan untuk melakukan pemijahan ikan biasanya adalah bak yang terbuat dari beton atau fiber sedangkan bak plastik biasanya digunakan untuk melakukan pemeliharaan larva ikan.
3). Akuarium
Akuarium merupakan salah satu wadah pemeliharaan ikan yang relatif sangat mudah dalam perawatannya. Akuarium dapat digunakan untuk budidaya ikan tawar dan air laut biasanya pada proses kegiatan pembenihan ikan atau untuk pemeliharaan ikan hias. Akuarium ini terbuat dari bahan kaca dimana penamaan akuarium ini berasal dari bahasa latin yaitu aqua yang artinya air dan area yang artinya ruang. Jadi akuarium ini adalah ruangan yang terbatas untuk tempat air yang berpenghuni, yang dapat diawasi dan dinikmati.
Akuarium yang digunakan untuk budidaya ikan ini dapat dibuat sendiri atau membeli langsung dari toko. Fungsi akuarium sebagai wadah untuk budidaya ikan juga dapat berfungsi sebagai penghias ruangan dimana akuarium tersebut dapat dinikmati keindahannya oleh penggemarnya. Berdasarkan fungsinya, akuarium dapat dibedakan antara lain adalah:
A. Akuarium Umum
Akuarium ini diisi dengan berbagai jenis ikan dan tanaman air yang bertujuan untuk penghias ruangan. Syarat akuarium umum:
1). Akuarium akan diletakkan sesuai dan serasi dengan ruangan.
2). Alat perlengkapan akuarium meliputi aerator, kabel listrik, pipa pvc, dan lain-lain, yang diletakkan tersembunyi supaya nampak alami.
3). Usahakan dasar akuarium tampak alami.
4). Tanaman disusun dengan estetika.
5). Jenis ikan yang dipelihara harus harmonis. Jenis akuarium ini biasanya digunakan sebagai hiasan bagi berbagai jenis ikan yang dapat dinikmati keindahan warna tubuh ikan baik ikan air tawar maupun ikan air laut dari jenis ikan hias maupun ikan konsumsi.
B. Akuarium Kelompok
Ikan-ikan yang dipelihara di dalam akuarium kelompok harus ikan sejenis/keluarga serta ditanami oleh tanaman air yang diperlukan oleh kelompok ikan yang dipelihara. Syarat akuarium kelompok:
1). Jenis ikan yang dipelihara harus masih sekerabat.
2). Susunan tanaman air disesuaikan dengan ikan yang dipelihara.
Jenis akuarium ini biasanya digunakan untuk memelihara ikan dalam satu kelompok baik ikan hias maupun ikan konsumsi dari ikan tawar dan laut.
C. Akuarium Sejenis
Dalam akuarium ini, estetika dan dekorasi dikesampingkan, karena tujuan dari akuarium sejenis untuk mengembangbiakan ikan. Jenis akuarium ini yang biasa digunakan untuk membudidayakan ikan air tawar dan laut.
D. Akuarium Tanaman
Dalam akuarium ini yang memegang peranan adalah tanaman air. Ikan dimasukkan ke dalam akuarium untuk penghias dan pemelihara tanaman.
4). Keramba Jaring Apung (KJA)
Budidaya ikan dalam karamba jaring apung adalah membesarkan ikan didalam wadah-wadah yang diapungkan di permukaan air, dimana wadah tersebut semua sisinya diselubungi oleh material (jaring) untuk menahan ikan di dalamnya. Budidaya ikan dalam karamba jaring apung dikelompokkan sebagai usaha pemeliharaan intensif, yakni dengan pemberian pakan yang berkualitas, penggunaan benih unggul, padat penebaran tinggi, juga harus didukung oleh lingkungan yang baik serta kemampuan pengelolaan yang baik pula. Jenis ikan yang dapat dipelihara pada karamba jaring apung tidak terbatas pada ikan mas atau ikan nila saja, tetapi hampir semua jenis ikan yang bernilai ekonomis dapat dipelihara pada wadah ini, seperti: Ikan lele, gurame, patin, bandeng, serta berbagai jenis ikan hias.
Sumber: LKS
Baca Juga :
Jenis Ikan Unik
Sumber: LKS
Baca Juga :
Jenis Ikan Unik

Mengenai teknik budidaya ikan patin ini meliputi beberapa kegiatan, secara garis besar dibagi menjadi 2 kegiatan yaitu pembenihan dan pembesaran. Kedua jenis kegiatan ini umumnya belum populer dilakukan oleh masyarakat, karena umumnya masih mengandalkan kegiatan penangkapan di alam (sungai, situ, waduk, dan lain-lain) untuk memenuhi kebutuhan akan ikan patin. Kegiatan pembenihan merupakan upaya utk menghasilkan benih pada ukuran tertentu. Produk akhirnya berupa benih berukuran tertentu, yang umumnya adalah benih selepas masa pendederan. Benih ikan patin dapat diperoleh dari hasil tangkapan di perairan umum. Biasanya menjelang musim kemarau pd pagi hari dengan menggunakan alat tangkap jala atau jaring. Benih dpt juga dibeli dari Balai Pemeliharaan Air Tawar di Jawa Barat. Benih dikumpulkan dlm suatu wadah, dan dirawat dengan hati-hati selama 2 minggu. Jika air dlm penampungan sudah kotor, harus segera diganti dengan air bersih, dan usahakan terhindar dari sengatan matahari. Sebelum benih ditebar, dipelihara dulu dalam jaring selama 1 bulan, selanjutnya dipindahkan ke dalam hampang yang sudah disiapkan. Secara garis besar usaha pembenihan ikan patin meliputi kegiatan kegiatan sbg berikut:
1). Pemilihan calon induk siap pijah.
2). Persiapan hormon perangsang dari ikan donor, yaitu ikan mas.
3). Kawin suntik (induce breeding).
4). Pengurutan (striping).
5). Penetasan telur.
6). Perawatan larva.
7). Pendederan.
8). Pemanenan.
Pada usaha budidaya yang semakin berkembang, tempat pembenihan dan pembesaran sering kali dipisahkan dengan jarak yang agak jauh. Pemindahan benih dari tempat pembenihan ketempat pembesaran memerlukan penanganan khusus agar benih selamat. Keberhasilan transportasi benih ikan biasanya sangat erat kaitannya dengan kondisi fisik maupun kimia air, terutama manyangkut oksigen terlarut, NH3, CO2, pH, dan suhu air.
1. Penyiapan Sarana dan Peralatan Budidaya Ikan Patin
Lokasi kolam dicari yang dekat dengan sumber air dan bebas banjir. Kolam dibangun di lahan yang landai dengan kemiringan 2-5% sehingga memudahkan pengairan di kolam secara gravitasi.
a. Kolam pemeliharaan Induk Ikan Patin
Luas kolam tergantung jumlah induk dan intensitas pengelolaannya, sebagai contoh untuk 100 kg induk memerlukan kolam seluas 500 meter persegi bila hanya mengandalkan pakan alami dan dedak. Sedangkan bila diberi pakan pelet, maka untuk 100 kg induk memerlukan luas 150-200 meter persegi saja. Bentuk kolam sebaiknya persegi panjang dengan dinding bisa ditembok atau kolam tanah dengan dilapisi anyaman bambu bagian dalamnya. Pintu pemasukan air bisa dengan paralon dan dipasang sarinya, sedangkan untuk pengeluaran air sebaiknya berbentuk monik.
b. Kolam pemijahan Ikan Patin
Tempat pemijahan dapat berupa kolam tanah atau bak tembok. Ukuran/luas kolam pemijahan tergantung jumlah induk yang dipijahkan dengan bentuk kolam empat persegi panjang. Sebagai patokan bahwa untuk 1 ekor induk dengan berat 3 kg memerlukan luas kolam sekitar 18m^2 dengan 18 buah ijuk/kakaban. Dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan, untuk menjamin agar dasar kolam dapat dikeringkan. Pintu pemasukan bisa dengan paralon dan pengeluarannya bisa juga memakai pralon (kalau ukuran kolam kecil) atau pintu monik. Bentuk kolam penetasan pada dasarnya sama dengan kolam pemijaan dan seringkali juga untuk penetasan menggunakan kolam pemijahan. Pada kolam penetasan diusahakan agar air yang masuk dapat menyebar ke daerah yang ada telurnya.
c. Kolam pendederan Ikan Patin
Bentuk kolam pendederan yang baik adalah segi empat. Untuk kegiatan pendederan ini biasanya ada beberapa kolam yaitu pendederan pertama dengan luas 25-500 m^2 dan pendederan lanjutan 500-1000 m^2 per petak. Pemasukan air bisa dengan pralon dan pengeluaran/pembuangan dengan pintu berbentuk monik. Dasar kolam dibuatkan kemalir (saluran dasar) dan didekat pintu pengeluaran dibuat kubangan. Fungsi kemalir adalah tempat berkumpulnya benih saat panen dan kubangan untuk memudahkan penangkapan benih, dasar kolam dibuat miring ke arah pembuangan. Petak tambahan air yang mempunyai kekeruhan tinggi (air sungai) maka perlu dibuat bak pengendapan dan bak penyaringan.
2. Pembibitan Ikan Patin
a. Menyiapkan Bibit Ikan Patin
Bibit yang hendak dipijahkan bisa berasal dari hasil pemeliharaan dikolam sejak kecil atau hasil tangkapan di alam ketika musim pemijahan tiba. Induk yang ideal adalah dari kawanan patin dewasa hasil pembesaran dikolam sehingga dapat dipilihkan induk yang benar-benar berkualitas baik.
b. Perlakuan dan Perawatan Bibit Ikan Patin
Induk patin yang hendak dipijahkan sebaiknya dipelihara dulu secara khusus di dalam sangkar terapung. Selama pemeliharaan, induk ikan diberi makanan khusus yang banyak mengandung protein. Upaya untuk memperoleh induk matang telur yang pernah dilakukan oleh Sub Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Palembang adalah dengan memberikan makanan berbentuk gumpalan (pasta) dari bahan bahan pembuat makanan ayam dengan komposisi tepung ikan 35%, dedak halus 30%, menir beras 25%, tepung kedelai 10%, serta vitamin dan mineral 0,5%. Makanan diberikan lima hari dalam seminggu sebanyak 5% setiap hari dengan pembagian pagi hari 2,5% dan sore hari 2,5%. Selain itu, diberikan juga rucah dua kali seminggu sebanyak 10% bobot ikan induk. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat kematangan gonad.
Ciri-ciri induk patin yang sudah matang gonad dan siap dipijahkan:
1). Induk Betina Ikan Patin
- Umur tiga tahun
- Ukuran 1,5 - 2 kg
- Perut membesar ke arah anus
- Perut terasa empuk dan halus bila di raba
- Kloaka membengkak dan berwarna merah tua
- Kulit pada bagian perut lembek dan tipis
- Kalau di sekitar kloaka ditekan akan keluar beberapa butir telur yang bentuknya bundar dan besarnya seragam.
2). Induk Jantan Ikan Patin
- Umur dua tahun
- Ukuran 1,5 - 2 kg
- Kulit perut lembek dan tipis
- Bila diurut akan keluar cairan sperma berwarna putih
- Kelamin membengkak dan berwarna merah tua
Benih ikan patin yang berumur 1 hari dipindahkan ke dalam akuarium berukuran 80cm x 45cm x 45 cm. Setiap akuarium diisi dengan air sumur box yang telah diaerasi. Kepadatan penebaran ikan adalah 500 ekor per akuarium. Aerator ditempatkan pada setiap akuarium agar keperluan oksigen untuk benih dapat tercukupi. Untuk menjaga kestabilan suhu ruangan dan suhu air digunakan heater atau dapat menggunakan kompor untuk menghemat dana. Benih umur sehari belum perlu diberi makan tambahan dari luar karena masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac, atau kuning telur.
Pada hari ketiga, benih ikan diberi makanan tambahan berupa emulsi kuning telur ayam yang direbus. Selanjutnya berangsur-angsur diganti dengan makanan hidup berupa Moina cyprinacea atau yang biasa dikenal dengan kutu air dan jentik nyamuk. Pembesaran ikan patin dapat dilakukan di kolam, di jala apung, melalui sistem pen, dan dalam karamba.
1). Pembesaran ikan patin di kolam dapat dilakukan melalui sistem monokultur maupun polikultur.
2). Pada pembesaran ikan patin di jala apung, hal hal yang perlu diperhatikan adalah: lokasi pemeliharaan, bagaimana cara menggunakan jala apung, bagaimana kondisi perairan dan kualitas airnya serta proses pembesarannya.
3). Pada pembesaran ikan patin sistem pen, perlu diperhatikan: pemilihan lokasi, kualitas air, bagaimana penerapan sistem tersebut, penebaran benih, dan pemberian pakan serta pengontrolan dan pemanenannya.
4). Pada pembesaran ikan patin di karamba, perlu diperhatikan masalah: pemilihan lokasi, penebaran benih, pemberian paka tambahan, pengontrolan dan pemanenan. Hampang dapat terbuat dari jaring, karet, bambu, atau ram kawat yang dilengkapi dengan tiang atau tunggak yang ditancapkan ke dasar perairan. Lokasi yang cocok untuk pemasangan hampang: kedalaman air 0,5 - 3 m dengan fluktuasi kedalaman tidak lebih dari 50 cm, arus tidak terlalu deras, tetapi cukup untuk sirkulasi air dalam hampang. Perairan tidak tercemar dan dasarnya sedikit berlumpur. Terhindar dari gelombang dan angin yang kencang serta terhindar dari hama, penyakit dan predator (pemangsa). Pada perairan yang dasarnya berbatu, harus digunakan pemberat untuk membantu mengencangkan jaring. Jarak antara tiang bambu/kayu sekitar 0,5 - 1 m.
3. Pemeliharaan Pembesaran Ikan Patin
a. Pemupukan Ikan Patin
Pemupukan kolam bertujuan untuk meningkatkan dan produktivitas kolam, yaitu dengan cara merangsang pertumbuhan makanan alami sebanyak-banyaknya. Pupuk yang biasa digunakan adalah pupuk kandang atau pupuk hijau dengan dosis 50-700 gram/m2.
b. Pemberian Pakan Ikan Patin
Pemberian makan dilakukan 2 kali sehari (pagi dan sore). Jumlah makanan yang diberikan per hari sebanyak 3-5% dari jumlah berat badan ikan peliharaan. Jumlah makanan selalu berubah setiap bulan, sesuai dengan kenaikan berat badan ikan dalam hampang. Hal ini dapat diketahui dengan cara menimbangnya 5-10 ekor ikan contoh yang diambil dari ikan yang dipelihara (sampel).
c. Pemeliharaan Kolam dan Tambak Ikan Patin
Selama pemeliharaan, ikan dapat diberi makanan tambahan berupa pellet setiap hari dan dapat pula diberikan ikan-ikan kecil/sisa (ikan rucah) ataupun sisa dapur yang diberikan 3-4 hari sekali untu perangsang nafsu makannya.
Sumber: LKS
Sumber: LKS
Langganan:
Postingan (Atom)


